RY. Hendriyathi,M.Pd
Santai Serius Sukses
 
 
 

Komentator

 

Pengunjung

8156
 

PEMBINAAN PROFESIONAL MELALUI SUPERVISI AKADEMIK SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN MUTU KINERJA GURU PADA SD SANTO YOSEPH I DENPASAR

PEMBINAAN PROFESIONAL MELALUI SUPERVISI AKADEMIK

SEBAGAI UPAYA  PENINGKATAN MUTU KINERJA GURU

PADA SD SANTO YOSEPH I DENPASAR

 

 

 

ARTIKEL

 

 

 

Oleh:

R.Y. HENDRIYATHI,M.Pd

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

SD SANTO YOSEPH I

JLN SERMA KAWI NO 2 DENPASAR

 

 

 

KATA PENGANTAR

 

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang Ida Sang hyang Widi Wasa, karena atas berkat  rahmat dan kasihnya, maka artikel dengan judul “ Pembinaan Profesional Melalui Supervisi Akademik Sebagai Upaya Peningkatan Mutu Kinerja Guru Pada SD Santo Yoseph 1 Denpasar” dapat diselesaikan tepat pada waktunya., sebagai prasyarat calon kepala sekolah berprestasi.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa walaupun penulisan ini telah dilaksanakan secara optimal, namun sebagai manusia yang tidak luput dari kekurangan dan keterbatasan sehingga dalam penulisan artikel ini penulis memerlukan banyak bimbingan, motivasi dan informasi dari berbagai pihak. Untuk itu penulis dengan ketulusan hati pada kesempatan ini menghaturkan ucapan terima kasih yang mendalam kepada guru-guru serta seluruh karyawan SD Santo Yoseph I Denpasar yang telah berkontribusi dengan baik selama penulisan selesai. Semoga beliau-beliau tersebut mendapat imbalan yang setimpal atas amal baktinya.

Penulis juga menyadari bahwa artikel  ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu penulis        sangat mengharapkan kritik dan saran dari pembaca demi perbaikan dan penyempurnaan artikel  ini.

Akhir kata semoga artikel ini bermanfaat, untuk pengembangan dunia pendidikan  khususnya kepala sekolah.

 

 

 

                                                                                   Denpasar, 12 Maret 2012

 

                                                                                   Penulis,

 

 

 

 

  1. Pendahuluan

            Pendidikan adalah usaha sadar yang dengan sengaja dirancang untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan yaitu meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui proses pembelajaran di sekolah. Dalam usaha untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, guru merupakan komponen sumber daya manusia yang harus dibina dan dikembangkan terus-menerus tanpa henti, potensi sumber daya guru perlu terus bertumbuh dan berkembang agar guru dapat  melakukan fungsinya secara potensial, belajar menyesuaikan diri dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta mobilitas masyarakat. Masyarakat memberi kepercayaan kepada guru untuk mendidik dan membantu mengembangkan tunas-tunas muda secara profesional. Kepercayaan, keyakinan dan penerimaan ini merupakan substansi dari pengakuan masyarakat terhadap profesi guru. Implikasi dari pengakuan tersebut mengisyaratkan guru harus memiliki kualitas yang memadai mampu mengembangkan kompetensi yang dimiliki, kompetensi personal, profesional, maupun kemasyarakatan dalam selubung aktualisasi kebijakan pendidikan.

            Hal tersebut lantaran guru merupakan penentu keberhasilan pendidikan melalui kinerjanya pada tatanan institusional dan eksperiensial, sehingga upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan harus dimulai dari aspek guru dan tenaga kependidikan lainnya yang menyangkut kualitas keprofesionalannya maupun kesejahteraan dalam satu manajemen pendidikan yang profesional. Tidak mengherankan apabila Kepala Pusat Kurikulum, Badan Penelitian dan Pengembangan ( Balitbang), Departemen Pendidikan Nasional ( Depdiknas), menyatakan bahwa penerapan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) menuntut kualitas guru memadai sehingga perlu meng-upgrade kemampuan guru supaya pelaksanaan kurikulum sesuai dengan harapan. Data Balitbang Depdiknas (tahun 2001) saja menunjukkan, dari 1.054.859 guru SD Negeri ternyata hanya 42, 4 % yang layak mengajar. Berarti, sebagian besar ( 57,6%) tidak layak mengajar ( Depdiknas go.id.com). Rendahnya kualitas guru SD/MI menyebabkan pemahaman mereka terhadap inovasi pendidikan sepotong-sepotong, bahkan ada yang sama sekali tidak memahami secara substansial apa yang dikembangkan pemerintah. Data tersebut semakin memperkuat data-data sebelumnya yang menyatakan bahwa kualitas sumber daya manusia kita pada tahun 2002 menempati angka 110 dari 173 negara, daya saing kita 47 dari 48 negara, performance sistem pendidikan kita berada pada nomor 38 dari 39 negara, penguasaan matematika siswa SLTP pada urutan ke- 34 dan penguasaan IPA pada urutan ke -32 dari 38 negara ( Sucipto,2003:2)

            Sebagai salah satu sumber acuan dalam pengembangan profesional tenaga kependidikan ( khususnya guru), penting rasanya diefektifkan dimensi kompetensi supervisi akademik oleh kepala sekolah, dengan memaksimalkan kegiatan supervisi akademik diharapkan tenaga guru dapat meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan dalam proses pembelajaran. Supervisi akademik merupakan kegiatan terencana yang ditujukan pada aspek kualitatif sekolah dengan membantu guru melalui dukungan dan evaluasi pada proses belajar dan pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar. Fungsi dukungan dalam supervisi akademik adalah menyediakan bimbingan profesional dan bantuan teknis pada guru untuk meningkatkan proses pembelajaran. Dengan mengajar lebih baik berarti membantu siswa untuk lebih mudah mencapai kompetensi yang harus dikuasai dalam pembelajaran. Semestinya semakin sering dilaksanakan supervisi akademik oleh kepala sekolah terhadap guru dapat meningkatkan secara signifikan kualitas kinerja guru dalam proses pembelajaran, tapi kenyataan walau supervisi akademik sering dilaksanakan oleh kepala Sekolah, namun belum dapat memaksimalkan kinerja guru dalam pembelajaran.

 

  1. Rumusan Masalah

            Bagaimana upaya yang dapat dilakukan dalam pembinaan profesional melalui supervisi akademik sebagai upaya untuk meningkatkan kinerja guru pada SD Santo Yoseph 1 Denpasar?

 

  1. Pembahasan
    1. Profesionalisme Guru

      Profesionalisme menjadi tuntutan dari setiap pekerjaan, apalagi profesi guru yang sehari-hari menangani benda hidup yang berupa anak-anak atau siswa dengan berbagai karakteristik yang berbeda. Pekerjaan sebagai guru menjadi lebih berat tatkala menyangkut peningkatan kemampuan anak didiknya, sedangkan kemampuan dirinya mengalami stagnasi. Dewasa ini banyak guru yang dengan berbagai alasan menjadi sangat sibuk, sehingga jarang mengingat tujuan pendidikan yang menjadi kewajibannya. Seringkali gaji yang rendah atau kesejahteraan yang kurang menjadi alasan guru untuk menomorduakan tugas utamanya yaitu mengajar sekaligus mendidik siswa. Guru hanya sebagai penyampai materi yang berupa fakta-fakta kering yang tidak bermakna karena guru lebih pintar satu langkah dalam semalam dari pada siswanya. Terjadi ketidaksiapan dalam proses belajar mengajar ketika guru berada di depan siswa tidak memahami tujuan umum pendidikan. Bahkan ada yang mempunyai kebiasaan mengajar yang kurang baik yaitu tiga perempat jam pelajaran untuk basa-basi bukan apersepsi dan seperempat jam untuk mengajar, suatu proporsi yang tidak relevan dengan keadaan dan kebutuhan siswa. Guru hanya menganggap siswa sebagai pendengar setia yang tidak diberi kesempatan untuk mengembangkan diri sesuai kemampuan yang dimiliki.

      Kegiatan belajar mengajar yang tidak sesuai dengan tujuan umum pendidikan yang menyangkut kebutuhan siswa dalam belajar, keperluan masyarakat terhadap sekolah dan mata pelajaran yang dipelajari. Guru memasuki kelas tidak mengetahui tujuan yang pasti, idealisme menjadi luntur ketika yang dihadapi ternyata masih anak-anak dan kalah dalam pengalaman. Banyak guru enggan meningkatkan kualitas pribadinya dengan membaca untuk memperluas wawasan. Jarang pula yang secara rutin pergi keperpustakaan untuk melihat perkembangan ilmu pengetahuan. Kebiasaan membeli buku menjadi hal yang mustahil dilakukan guru karena sudah merasa puas dengan menggunakan LKS ( Lembar kerja Siswa) yang berupa soal serta sedikit ringkasan materi.

      Sarana dan prasarana penunjang pelajaran yang sudah ada tapi tidak dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, peta dunia hanya dipajang di depan kelas, globe atau bola dunia dibiarkan berkarat tidak pernah tersentuh, buku-buku pelajaran diperpustakaan dimakan rayap alat-alat praktek di laboratorium hanya tersimpan rapi. Guru dituntut lebih kreatif dan inovatif dalam pemakaian sarana dan media yang ada demi peningkatan mutu pendidikan. Penataran dan pelatihan mutlak diperlukan demi meningkatkan pengetahuan, wawasan dan kompetensi guru untuk mengembangkan diri lebih kreatif. Guru juga diberi keleluasaan dalam menetapkan dengan tepat apa yang digagas, dipikirkan, dipertimbangkan, direncanakan dan dilaksanakan dalam pengajaran sehari-hari, karena ditangan guru keberhasilan belajar siswa ditentukan. Mutlak dilakukan ketika awal menjadi guru memahami tujuan umum pendidikan, memahami karakter siswa dengan berbagai perbedaan yang melatar belakanginya. Sangatlah penting untuk memahami bahwa siswa belajar dalam berbagai cara yang berbeda. Cara belajar siswa yang berbeda-beda, memerlukan cara pendekatan pembelajaran yang berbeda. Guru harus mempergunakan berbagai pendekatan agar anak tidak cepat bosan . Kemampuan guru untuk melakukan berbagai pendekatan dalam belajar perlu diasah dan ditingkatkan. Jangan merasa cepat puas setelah mengajar, tetapi lihat hasil setelah mengajar. Guru perlu membekali diri dengan pengetahuan tentang psikologi pendidikan dalam menghadapi siswa yang beraneka ragam.

      Tuntutan akan profesionalisme guru makin kuat bukan hanya di Indonesia tapi juga di Negara-negara maju.

Untuk menjadi profesional, seorang guru dituntut memiliki lima hal, yaitu:

  1. Mempunyai komitmen pada siswa dan proses belajarnya
  2. Menguasai secara mendalam bahan/mata pelajaran yang diajarkan dan cara mengajarkan kepada siswa
  3. Bertanggung jawab memantau hasil belajar siswa melalui berbagai teknik evaluasi, mulai cara pengamatan perilaku sampai tes hasil belajar.
  4. Mampu berpikir sistematis tentang apa yang dilakukannya dan belajar dari pengalaman, artinya selalu mengadakan refleksi dan koreksi terhadap apa yang telah dilakukan, belajar dari pengalaman harus tau mana yang benar dan mana yang salah.
  5. Merupakan bagian dari masyarakat belajar dalam lingkungan profesinya, misalnya PGRI dan organisasi profesi lainnya ( Supriyadi, 1999:98)

 

Dalam konteks yang aplikatif, kemampuan profesional guru dapat diwujudkan dalam penguasaan sepuluh kompetensi guru, yang meliputi:

  1. Menguasai bahan, meliputi: a) bidang studi dalam kurikulum, b) bahan  pengayaan/penunjang bidang studi
  2. Mengelola program belajar mengajar, meliputi: a) merumuskan tujuan pembelajaran, b) mengenal dan menggunakan prosedur pembelajaran yang tepat, c) melaksanakan program belajar-mengajar, d) mengenal kemampuan anak didik
  3. Mengelola kelas, meliputi: a) mengatur tata ruang kelas untuk pelajaran, b) menciptakan iklim belajar mengajar yang serasi
  4. Penggunaan media atau sumber, meliputi: a) mengenal, memilih dan menggunakan media, b) membuat alat bantu yang sederhana, c) menggunakan perpustakaan dalam proses belajar- mengajar, d) menggunakan micro teaching untuk unit program pengenalan lapangan.
  5. Menguasai landasan-landasan pendidikan
  6. Mengelola interaksi-interaksi belajar mengajar
  7. Menilai prestasi siswa untuk kepentingan pelajaran
  8. Mengenal fungsi layanan bimbingan dan konseling di sekolah, meliputi:

 a) mengenal fungsi dan layanan program bimbingan dan konseling,

b) menyelenggarakan layanan bimbingan dan konseling.

  1. Mengenal dan menyelenggarakan administrasi sekolah

10.  Memahami prinsip-prinsip dan menafsirkan hasil penelitian pendidikan guna keperluan pengajaran ( Suryasubrata 1997:4-5)

 

  1. Supervisi Akademik

      Supervisi adalah bantuan dalam pengembangan situasi pembelajaran yang lebih baik. Situasi belajar inilah yang seharusnya diperbaiki dan ditingkatkan melalui layanan kegiatan supervisi. Dengan demikian layanan supervisi  mencakup seluruh aspek dari penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran.

Supervisi akademik dapat dijelaskan menurut asal usul ( etimologi), bentuk perkataannya ( morfologi), maupun isi yang terkandung dalam perkataan itu

( semantik) sebagai berikut:

  1. Secara Etimologi, istilah supervisi diambil dari perkatan bahasa Inggris ‘ Supervision” artinya pengawasan, dibidang pendidikan kemudian dimaknai sebagai pengawasan bidang pengajaran yang kemudian menjadi istilah supervisi akademik
  2. Morfologis, supervisi  terdiri dari dua kata super dan visi, super berarti atas dan visi berarti lihat, tilik, awasi. Seorang supervisor mempunyai posisi diatas  atau mempunyai kedudukan yang lebih tinggi dari orang yang disupervisinya
  3. Semantik, pada hakekatnya isi yang terkandung dalam definisi yang rumusannya tentang sesuatu tergantung dari orang yang mendefinisikan. Wiles secara singkat merumuskan supervisi akademik sebagai bantuan pengembangan situasi mengajar belajar agar lebih baik. Depdiknas (1994) merumuskan supervisi akademik sebagai berikut: “Pembinaan yang diberikan kepada seluruh staf sekolah agar mereka dapat meningkatkan kemampuan untuk mengembangkan situasi belajar mengajar yang lebih baik”

 

      Tujuan supervisi adalah memberikan layanan dan bantuan untuk meningkatkan kualitas mengajar guru dikelas yang pada gilirannya untuk meningkatkan kualitas belajar siswa. Bukan saja memperbaiki kemampuan mengajar tetapi juga mengembangkan potensi kualitas guru ( Sahertian,2000:19). Permasalahan yang dihadapi dalam melaksanakan supervisi adalah bagaimana cara mengubah pola pikir yang bersifat otokrat dan korektif menjadi sikap yang konstruktif dan kreatif, yaitu sikap yang menciptakan situasi dan relasi di mana guru-guru merasa aman dan diterima sebagi subjek yang dapat berkembang sendiri, untuk itu supervisi harus dilaksanakan berdasarkan data, fakta yang objektif ( Sahertian, 2000:20)

Supandi ( 1986:252) menyatakan bahwa ada dua hal yang mendasari pentingnya supervisi dalam proses pendidikan. Yakni:

  1. Perkembangan kurikulum merupakan gejala kemajuan pendidikan. Perkembangan yang menimbulkan perubahan struktur maupun fungsi kurikulum, pelaksanaan yang memerlukan penyesuaian yang terus menerus dengan keadaan nyata di lapangan. Guru-guru harus senantiasa berusaha untuk mengembangkan kreatifitasnya agar daya upaya pendidikan berdasarkan kurikulum dapat berjalan baik.
  2. Pengembangan Personil, pegawai atau karyawan senantiasa merupakan upaya yang terus-menerus dalam suatu organisasi. Pengembangan personal dapat dilaksanakan secara formal dan informal. Pengembangan formal menadi tanggung jawab lembaga yang bersangkutan melalui penataran, tugas belajar, loka karya dan sejenisnya. Sedangkan pengembangan informal merupakan tanggung jawab pegawai sendiri dan dilaksanakan secara mandiri atau bersama dengan rekan lainnya, melalui berbagai kegiatan ilmiah, percobaan suatu metode mengajar, dan lain sebagainya.

 

      Kegiatan supervisi akademik wajib dilaksanakan dalam penyelenggaraan pendidikan, pelaksanaan kegiatan supervisi dilaksanakan oleh kepala sekolah dan pengawas sekolah dalam memberikan binaan kepada guru. Hal tersebut karena proses belajar-mengajar yang dilaksanakan guru merupakan inti dari proses pendidikan secara keseluruhan dengan guru sebagai peranan utama. Proses belajar mengajar merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu. Oleh karena itu kegiatan supervisi dipandang perlu untuk memperbaiki kinerja guru dalam proses pembelajaran di SD Santo Yoseph 1 Denpasar.

 

Secara umum ada dua kegiatan yang termasuk dalam katagori supervisi  akademik, yakni:

  1. Supervisi yang dilakukan oleh Kepala Sekolah kepada guru-guru SD

Secara rutin dan terjadwal Kepala sekolah melaksanakan kegiatan supervisi kepada guru-guru dengan harapan agar guru mampu memperbaiki proses pembelajaran yang dilaksanakan. Dalam prosesnya kepala sekolah memantau secara langsung ketika guru sedang mengajar, guru mendisain kegiatan pembelajaran dalam bentuk Rencana Pembelajaran kemudian kepala sekolah mengamati proses pembelajaran yang dilakukan guru.

Saat kegiatan supervisi berlangsung, kepala sekolah sudah menggunakan lembar observasi yang sudah dibakukan, yakni Alat Penilaian Kemampuan Guru ( APKG). APKG terdiri dari APKG 1 ( untuk menilai Rencana Pembelajaran yang dibuat guru) dan APKG 2 ( untuk menilai pelaksanaan proses pembelajaran) yang dilakukan guru.

  1. Supervisi yang dilakukan oleh Pengawas Sekolah kepada Kepala Sekolah dan guru-guru untuk meningkatkan kinerja.

Kegiatan supervisi ini dilakukan oleh pengawas sekolah yang bertugas di suatu Gugus Sekolah. Gugus Sekolah adalah gabungan dari beberapa sekolah terdekat, biasanya terdiri dari 5-8 sekolah Dasar. Hal-hal yang diamati pengawas sekolah ketika melakukan kegiatan supervisi untuk memantau kinerja kepala sekolah, diantaranya administrasi sekolah, meliputi:

  1. Bidang akademik, mencakup kegiatan:
    1. Menyusun program tahunan dan semester
    2. Mengatur jadwal pelajaran
    3. Mengatur pelaksanaan penyususnan model satuan pembelajaran
    4. Menentukan norma kenaikan kelas
    5. Menentukan norma penilaian
    6. Mengatur pelaksanaan evaluasi belajar
    7. Meningkatkan perbaikan mengajar
    8. Mengatur kegiatan kelas apabila guru tidak hadir, dan
    9. Mengatur disiplin dan tata tertib kelas
    Bidang kesiswaan, mencakup kegiatan:
    1. Mengatur pelaksanaan PMB berdasarkan peraturan penerimaan siswa baru
    2. Mengelola layanan bimbingan dan konseling
    3. Mencatat kehadiran dan ketidakhadiran siswa, dan
    4. Mengatur dan mengelola kegiatan ekstrakurikuler
    Bidang Personalia, mencakup kegiatan:
    1. Mengatur pembagian tugas guru
    2. Mengajukan kenaikan pangkat, gaji, dan mutai guru
    3. Mengatur program kesejahteraan guru
    4. Mencatat kehadiran dan ketidakhadiran guru, dan
    5. Mencatat masalah atau keluhan-keluhan guru
    Bidang keuangan, mencakup kegiatan:
    1. Menyiapkan rencana anggaran dan belanja sekolah
    2. Mencari sumber dana untuk kegiatan sekolah
    3. Mengalokasikan dana untuk kegiatan sekolah, dan
    4. Mempertanggungjawabkan keuangan sesuai dengan peraturan yang berlaku
    Bidang Sarana dan Prasarana, mencakup kegiatan:
    1. Penyediaan dan seleksi buku pegangan guru
    2. Layanan perpustakaan dan laboratorium
    3. Penggunaan alat peraga
    4. Kebersihan dan keindahan lingkungan sekolah
    5. Keindahan dan kebersihan kelas, dan
    6. Perbaikan kelengkapan kelas
    Bidang Hubungan masyarakat, mencakup kegiatan:
    1. Kerjasama sekolah dengan orangtua siswa
    2. Kerjasama sekolah dengan Komite Sekolah
    3. Kerjasama sekolah dengan lembaga-lembaga terkait, dan
    4. Kerjasama sekolah dengan masyarakat sekitar ( Depdiknas 1997)

Sedangkan ketika mensupervisi guru, yang dipantau pengawas juga terkait dengan administrasi pembelajaran yang harus dikerjakan guru, diantaranya:

  1. Penggunaan program semester
  2. Penggunaan rencana pembelajaran
  3. Penyususnan rencana harian
  4. Program dan pelaksanaan evaluasi
  5. Kumpulan soal
  6. Buku pekerjaan siswa
  7. Buku daftar nilai
  8. Buku analisis hasil evaluasi
  9. Buku program bimbingan dan konseling
  10. Buku pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler

 

  1. Peningkatan Mutu Kinerja Guru

            Guru merupakan penentu keberhasilan pendidikan melalui kinerjanya pada tataran institusional dan eksperiensial, sehingga upaya meningkatkan mutu pendidikan harus dimulai dari aspek “ guru” dan tenaga kependidikan lainnya yang menyangkut kualitas keprofesionalannya maupun kesejahteraan dalam satu manajemen pendidikan yang professional.

Depdiknas (2001) dengan judul bukunya Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah menjelaskan bahwa ada dua metafora untuk menggambarkan pentingnya pengembangan mutu kinerja sumber daya guru, yaitu;

  1. Jabatan guru diumpamakan dengan sumber air.

Sumber air itu harus terus menerus bertambah, agar sungai dapat mengalir sehingga sumber air tidak kering. Demikian bila seorang guru tidak pernah membaca informasi yang baru, tidak menambah ilmu pengetahuan tentang apa yang diajarkan , maka tidak akan mungkin memberi ilmu dan pengetahuan dengan cara yang lebih menyegarkan kepada peserta didik.

  1. Jabatan guru diumpamakan dengan sebatang pohon buah-buahan.

Pohon itu tidak akan berbuah lebat, bila akar induk pohon tidak menyerap zat-zat makanan yang berguna bagi pertumbuhan pohon itu. Begitu juga dengan jabatan guru yang perlu bertumbuh dan berkembang, baik pribadi maupun profesi guru.

 

 Muhamad Surya (2002) dalam makalah Seminar internasional menyatakan bahwa Peningkatan mutu kinerja sumber daya guru bisa dilaksanakan dengan bantuan supervisor, yaitu orang ataupun instansi yang melaksanakan kegiatan supervisi terhadap guru.Perlunya bantuan supervisi terhadap guru berakar dalam kehidupan masyarakat. Latar belakang perlunya peningkatan mutu kinerja guru berakar mendalam dalam kebutuhan masyarakat dengan latar belakang sebagai berikut:

  1. Latar belakang kultural.

Pendidikan berakar dari budaya arif lokal setempat, sejak dini pengalaman belajar dan kegiatan belajar mengajar harus diangkat dari isi kebudayaan yang hidup di masyarakat. Semua proses pembelajaran sangat ditentukan oleh mutu dari kenerja seorang guru, sebagai pendidik, pelatih dan pembimbing siswa.

  1. Latar belakang Filosofis

Suatu pendidikan yang berhasil guna dan berdaya guna bila berakar pada nilai-nilai filosofis

  1. Latar Belakang Psikologis

Secara psikologis supervisi itu berakar pada pengalaman manusia. Tugas supervise adalah menciptakan suasana sekolah yang penuh kehangatan sehingga tiap orang dapat menjadi dirinya sendiri

  1. Latar Belakang sosial

Seorang supervisor dalam melakukan tanggung jawabnya harus mampu mengembangkan potensi kreativitas dari orang yang dibina melalui ikut berpartisipasi bersama. Supervisi harus bersumber pada kondisi masyarakat.

  1. Latar belakang Sosiologis

Secara sosiologis perubahan masyarakat punya dampak terhadap tat nilai. Supervisor bertugas menukar ide dan pengalaman tentang mensikapi perubahan tata nilai dalam masyarakat secara arif dan bijaksana.

  1. Latar Belakang pertumbuhan jabatan

Supervisi bertugas memelihara, merawat, dan menstimulasi pertumbuhan jabatan guru. Diharapkan guru menjadi semakin profesional dalam mengemban amanat jabatannya dan dapat meningkatkan posisi tawar guru di masyarakat dan pemerintah, bahwa guru punya peranan utama dalam pembentukan harkat dan martabat manusia.

 

  1. Kesimpulan

            Kebijakan pendidikan harus ditopang oleh pelaku pendidikan yang berada di front terdepan, yakni guru melalui interaksinya dalam pendidikan. Upaya peningkatan mutu pendidikan perlu dilakukan secara bertahap dengan mengacu pada rencana strategis. Keterlibatan seluruh komponen pendidikan (guru, kepala sekolah, masyarakat, komite sekolah, dewan pendidikan dan institusi) dalam perencanaan dan realisasi program pembinaan secara berkesinambungan melalui supervisei akademik.

            Implementasi kemampuan profesional mutu kinerja guru mutlak diperlukan sejalan diberlakukan otonomi daerah, khususnya bidang pendidikan. Kemampuan profesional mutu kinerja guru akan trewujud apabila guru memiliki kesadaran dan komitmen yang tinggi dalam mengelola interaksi belajar-mengajar pada tataran mikro, dan memiliki kontribusi terhadap upaya peningkatan mutu pendidikan pada tatanan makro. Salah satu upaya peningkatan profesional mutu kinerja guru adalah melalui supervisi akademik. Pelaksanaan supervisi akademik perlu dilakukan secara sistematis oleh kepala sekolah dan pengawas yang bertujuan memberikan pembinaan kepada guru-guru agar dapat melaksanakan tugasnya secara efektif dan efisien. Dalam pelaksanaannya baik kepala sekolah dan pengawas menggunakan lembar pengamatan instrument supervisi akademik yang berisi aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam peningkatan kinerja guru dan kinerja sekolah.Untuk mensupervisi digunakan Alat Penilaian Kemampuan Guru (APKG)

            Implementasi kemampuan profesional mutu kinerja guru mengisyaratkan guru agar mampu meningkatkan peran yang dimiliki, baik sebagai informatory ( pemberi informasi),organisator, motivator,director, inisiator (pemrakasa inisiatif, transmitter

( penerus), mediator dan evaluator sehingga diharapkan mampu mengembangkan kompetensinya. Supervisi akademik yang terencana, sistematik, terarah dan berkesinambungan diharapkan dapat mewujudkan kondisi ideal dimana kemampuan profesional guru dapat diimplementasikan sejalan diberlakukan otonomi daerah. Kemampuan guru bergantung pada berbagai sistem pendidikan yang saling berkolaborasi. Dan Peranan kepala sekolah sebagai supervisor harus dimaksimalkan. Sebab pencapaian mutu kinerja guru yang profesional memiliki keterkaitan dengan berbagai, pendidikan yang sangat menentukan dalam implementasi mutu kinerja guru.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Balitbang Depdiknas. 2001. Data Standardisasi Kompetensi Guru.

            (http://www.depdiknas.go.id.html)

 

Depdiknas. 1997. Petunjuk Pengelolaan Administrasi Sekolah Dasar.

            Jakarta: Depdiknas

 

Depdiknas. 2001. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah ( Buku I).          Jakarta.Depdiknas

 

Sahertian, Piet A. 2000. Konsep-konsep dan Teknik Supervisi Pendidikan Dalam Rangka Pengembangan Sumber Daya manusia. Jakarta: Rineka cipta

 

Sucipto, 2003. Profesionalisasi Guru Secara Internal, Akuntabiliras Profesi. Makalah         Seminar Nasional. Semarang: Universitas Negeri Semarang

 

Supandi, 1996. Administrasi dan Supervisi pendidikan. Jakarta: departemen Agama           Universitas terbuka

 

Supriadi, Dedi. 1999. Mengangkat Citra dan Martabat Guru. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa.

 

Surya, Mohamad. 2002. Peran Organisasi Guru Dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan    Seminar Lokakarya Internasional. Semarang: IKIP PGRI

 

Suryasubrata, 1997. Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta

Komentar :

Nama :
E-mail :
Web :
Komentar :
Masukkan kode pada gambar

    [Emoticon]
 

Pengumuman PPMB

 

Artikel Popular

 

Komentar Terbaru

 
 

Jam

 

Kalender

 

Ikan-ikanku

 
Home | Profil | Pengumuman

Copyright © 2011 Unair | Designed by Free CSS Templates